Dendang dari segala goyang
bermuara pada wajah wajah sekarat
Yang berkuasa atas tahta rakyat! (Sosiawan Leak)
Mendiang Y.B.Mangun Wijaya,dalam sebuah pertemuan di Solo,pernah mengungkapkan kerinduannya akan munculnya"splendor veritatis",splendor: cahaya,veritas:kebenaran.Splendor veritatis atau cahaya kebenaran adalah orang2 yg mampu memberikan sumbangannya yg relevan dalam pergulatan hidup sekian juta manusia,yg memdambakan pemanusiawian dirinya.
Orang2 dg fungsi dan daya splender veritatis semacan ini sesungguh nya ada.Akan tetapi mereka lebih cenderung bersembunyi dibalik ritualitas simbolik.Mereka antara lain para seniman dan ilmuwan di perguruan tinggi yg kita sebut cendikiawan.Keduanya banyak memperdulikan alienasi keretakan diri manusia yg mengalami krisis dlm skala global,yg kini dalam stadium parah.
Harapan Romo Mangun akan munculnya "setitik cahaya" ini barangkali sudah terwujud dalam diri para penyair kita semisal Rendra,Wiji Thukul dan lain2 yg puisinya akan saya kemukakan dalam tulisan ini.Mereka muncul dg prinsip kreatifitas puitik yg tegas:Menyuarakan kenyataan yg keras dan menekan dalam kehidupan yg nyata.Seperti yng diharapkan Romo Mangun,estetika untuk penikmatan panca indera ataupun intelektual bagi mereka bukanlah utama,hal yg utama justru adalah penjaminan eksistensi dlm pergulatan to be or not to be.
Setitik cahaya itu mungkin juga nuncul dalam "facebookers Power" akhir akhir ini.Kita tahu baru2 ini dunia maya bergetar menjadi perbincangan didalam negri,bahkan gaungmya sampai luar negri(salut).Lebih dari satu juta FB yg menunjukan sikap dan keberpihakan secara konkrit untuk anti rekayasa dan kriminalisasi.Situs FB sekali lagi jadi panggung perlawanan dlm kasus Cicak Buaya.
Kita kenbali lagi dlm pembahasan masaalah splendor veritatis dlm sajak2 para penyair tsb.Tulisan ini bermaksud memngemukakan kegundahan para penyair kita dlm melihat kecarutmarutan negri yg kita cintai ini dan sikap yg secara sadar dimiliki para penyair ini.
Sang pujangga besar Rendra dalam salah satu puisinya yg berjudul"Pesan pencopet pd pacarnya"mengatakan/DIMASYARAKAT MALING KEHORMATAN CUMA GINCU/YG UTAMA KELICINAN/NOMOR DUA KEBERANIAN/NOMOR TIGA KEULETAN/NOMOR EMPAT KETEGASAN,BIARPUN DLM BERDUSTA/INILAH ILMU HIDUP MASYARAKAT MALING/JADI JANGANLAH RAGU/RAKYAT KECIL TAK BISA NGALAH MELULU/ dalam puisi yg lain ia mengatakan/POLITISI DAN PEGAWAI TINGGI/ADALAH CALO YG RAPI/
Bekas jubir Abdurahman Wahid,Adhi Massardi juga masuk menjadi "setitik cahaya" itu dengan penggambarannya dalam "Negri Para Bedebah" yg akhir2 ini selalu berkumandang dilayar kaca.Penyair yg berikutnya adalah Wiji Thukul yg berpuisi lewat "Momok Hiong"ia mengatakan/MOMOK HIONG SIBIANG KEROK/PALING JAGO BIKIN RICUH/KALAU SITUASI KERUH/JINGKRAT2 IA/karena simomok hiong ini /BIKIN KACAU IA AHLINYA/AKALNYA BULUS SIASATNYA ULAR/LUAR BIASA CERDASNYA/DILUAR BATAS CULASNYA/DEMOKRASI DIJADIKAN BOLA MAINAN/HAK AZAZI DITAFSIR SEMAU GUE/bahkan kerakusannya digambarkan wiji sbb:/EMAS DOYAN HUTAN DOYAN/KURSI DOYAN NYAWA DOYAN/bahkan nasib rakyat dinomor buncitkan karena/TANAH AIR DIGADAIKAN/MASA DEPAN RAKYAT DIGELAPKAN/DIJADIKAN JAMINAN UTANG/
Momok hiong dlm puisi Wiji memang bukan hanya sekedar hantu dlm dongeng jawa.Dia adalah biang kerok yg kelewat jahat, dia adalah kekuasaan bengis yg menindas.Inilah setitik kebenaran yg diteriakan wiji.ada beberapa tema yg menonjol pada puisi Wiji yakni melawan kekuasaan yg sewenag wenang,tapi karena puisi2nya kala itu "mencerahkan"sang Penyair hilang tak ketahuan rimbanya sampai sekarang.
Salah satu penyair yg juga gundah melihat kondisi sosial politik kita adalah Sosiawan Leak,seorang penyair asal Solo seperti halnya Wiji Thukul.Dalam puisinya ia mengatakan/NEGRI YG DIKUASAI SEROMBONGAN BELUT/LICIN DAN GAMPANG BERINGSUT/NEGRI DIMANA KECERDASAN LANGKA,SEBAB ONGKOS SEKOLAH SELALU MEMBARA/NEPOTISME BERANAK PINAK/KORUPSI DAN KOLUSI BERSARANG DI UNDANG2/PENGANGGURAN TAK DIURUSI/BURUH BEKERJA TAK DILINDUNGI/SELEKSI PEGAWAI DIJUALBELIKAN/PEMILU DI MONEYPOLITIKAN/dalam puisi yg lain ia mengatakan/NEGRI BERSEMAK REMPAH/BERBELUKAR BAHAN TAMBANG,BERERIMBUN HUTAN NAMUN SELALU LAPAR/Dalam puisinya yg lain lagi ia berujar/AKU MALU BERKACAK SAYAP DINEGRI BIADAB/NEGRI YG SUBUR DG KETURUNAN BARBAR/NEGRI YG MAKMUR DG KAUM PECUNDANG/
Dari pembicaraan sepintas terhadap puisi keempat penyair tsb diatas dapat dikatakan bahwa mereka adalah penyair2 yg peduli terhadap nasib negri ini.Mereka tak hanya menggulai kata2-biar manis-melebihi maknanya.mereka dalam banyak puisinya ,yg tentu saja kami tak dapat mengemukakan satu persatu,selalu konsen terhadap lingkungan sosial politiknya.Puisi puisi mereka selalu aktual dan relevan untuk selalu kita perbincangkan walau kedua nama tsb yakni mas Rendra dan Wiji telah meninggal dunia.tapi seakan akan mereka berdua berteriak detik ini melihat carut narut negri.Akhir dari tulisan ini akan saya tutup dg puisi leak:kenyataan hanya indah bagi yg tak punya mimpi dan khayalan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar